Senin, September 26, 2022

Mungkinkah Munarman Jadi Pintu Masuk Terorisme di Indonesia?

“Ide dan gagasan terorisme itu dibawa masuk dan dimainkan dalam agenda kepentingan kelompok internasional”

Tribute Indonesia – Agenda pemeriksaan saksi dalam perkara tindak pidana terorisme yang dilangsungkan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur dengan terdakwa Munarman (mantan Sekretaris UMUM Front Pembela Islam) telah dilangsungkan pada Senin (7/2/2022) kemarin.

Dalam kesaksian RS, disampaikan bahwa Munarman adalah sebagai public figure dari Ansharut Daulah, sebuah kelompok militan yang dikenal kerap melakukan aksi-aksi terorisme di Indonesia dan berkiblat kepada ISIS pimpinan Syekh Abu Bakar Al Baghdadi.

“Kontribusi maksud saya tadi Munarman banyak dikenal orang sehingga masyarakat awam Indonesia akan tertarik. Ketika memang dinyatakan Munarman bahwasanya itu dukungan Daulah Islamiyah bukan suatu yang terlarang,” kata saksi RS.

Kedatangan Munarman pada saat dilakukan pembaiatan di Universitas Sumatera Utara Deli Serdang adalah bukti bentuk kontribusi dari yang bersangkutan dalam acara berselubung seminar yang diselenggarakan pada tanggal 5 April 2015 silam.

“Kontribusi itu dalam bentuk kehadiran Munarman dalam kegiatan yang dilakukan oleh teman-teman dalam berdirinya khilafah. Lalu, khilafah tadi menjadi entry point bagi orang-orang yang aktif pada khilafah,” ucap RS bersaksi.

Dikonfirmasi melalui komunikasi seluler pada Selasa (8/2/2022), Wakil Sekretaris Jenderal Pandawa Nusantara Ronald Loblobly, berpendapat bahwa kegiatan terorisme yang berlangsung di Indonesia memang dibawa masuk dan disosialisasikan oleh tokoh atau entitas yang memiliki pengaruh untuk dapat menarik simpati dan dukungan publik.

“Terorisme itu begini, ide dan gagasan terorisme itu dibawa masuk dan dimainkan dalam agenda kepentingan kelompok internasional terhadap negara target (Indonesia) dengan menggunakan kaki tangan lokal yang bertindak sebagai operator dan merekrut para anggota/ simpatisannya,” ujarnya.

Lebih lanjut, mantan aktivis intra kampus era 2000-an itu menambahkan bahwa gerakan terorisme di Indonesia sering kali dan terus menerus dimainkan dengan cover ajaran agama tertentu agar dapat dengan mudah menjebak target dalam pemahaman keimanan yang sempit.

“Kenapa kerap kali kita lihat pasti sosok yang tampil adalah tokoh dari organisasi keagamaan atau membawa simbol-simbol agama di Indonesia? Karena pluralnya keyakinan penganut agama di Indonesia yang beraneka ragam dan terpolarisasi dalam pemahaman spiritual yang berbeda-beda. Itulah yang dimanfaatkan oleh para perekrut untuk menjerat saudara sebangsa dan mencuci isi kepala mereka dengan pemahaman radikal/terorisme,” kata Ronald.

ViaAden

Latest news

Related news