Senin, November 28, 2022

Sorot Pelecehan Seksual, LS-ADI: Tolak Syiah yang Anti Pancasila

Mereka menuntut Pemerintah untuk membubarkan organisasi apapun yang berafiliasi dengan Syiah

Tribute Indonesia – Puluhan perempuan yang tergabung dalam organisasi kepemudaan Lingkar Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia (LS-ADI) berunjuk rasa di depan Kantor Polda Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) kemudian berlanjut di depan Kantor Kemenag Sulteng dan berakhir di depan Kantor DPRD Sulteng pada Kamis (16/12/2021).

Demontrasi tersebut melayangkan beberapa tuntutan yaitu, Tutup Pesantren dan Majelis yang Berafiliasi dengan Agama Syiah, Bubarkan Ormas yang Berafiliasi dengan Agama Syiah, serta Tangkap dan Adili Pelaku Pelecehan Seksual di Kampus.

Koordinator Lapangan (Korlap) Unjuk Rasa, Rahma Mina, mengatakan bahwa Syiah anti Pancasila yang bercita-cita menggantikan ideologi dengan ideologi Imamah. Dasar perjuangan penganut agama Syiah adalah Imamah, yakni merebut kekuasaan dan mengganti ideologi.

“Gerakan pengacau negara, penyebab konflik. Ketika komunitas masih sedikit ia bertaqiyah atau berdusta, bahaya laten ini perlu mendapat perhatian dan kewaspadaan. Maka dari itu kami mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya Pemerintah untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan akan ancaman gerakan Syiah untuk mencapai target utamanya yaitu menegakkan ideologi Imamah, Syiah melakukan cara taqiyah untuk mencapai tujuannya,” katanya dalam keterangan tertulis, Jakarta, Jumat (17/12/2021).

Menurut Rahma, perjuangan pengikut Syiah untuk menegakkan ideologi Imamah, yang jelas-jelas bertentangan dengan Ideologi Pancasila dan Konstitusi Negara.

“Maka kami mendesak Pemerintah melalui proses hukum untuk melakukan pembubaran institusi atau organisasi Syiah di Indonesia baik itu IJABI, ABI, atau yayasan-yayasan dan lembaga lain yang berafiliasi kepada gerakan sesat Syiah. Syiah memiliki paham ideologi yang sangat bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 serta dapat merongrong stabilitas NKRI,” ujarnya.

Di samping itu, Rahma menjelaskan, momentum peringatan Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember 2021 mendatang merupakan bentuk penghargaan atas peran besar dari sosok ibu. Peringatan Hari Ibu di Indonesia tak lepas dari peran perempuan di Tanah Air untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Mina mengungkapkan, tujuan peringatan Hari Ibu untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan. Dasar negara Indonesia telah menjamin kesetaraan kaum perempuan dan laki-laki yang tertuang dalam sila kedua Pancasila yang berbunyi ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’. Hal ini bertentangan dengan Agama Syiah, dimana perempuan hanya dijadikan obyek pemuas birahi dengan istilah nikah mut’ah.

“Contohnya baru-baru ini publik dibuat geger dengan kabar sosok Herry Wirawan di salah satu pondok pesantren di kota Bandung, yang tega mencabuli puluhan santriwatinya hingga melahirkan 8 bayi. Kasus ini pun viral dan menjadi polemik di tengah publik. Kami menduga sosok pelaku yang ngakunya ustadz itu merupakan penganut paham Syiah,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Rahma, marak korban pelecehan seksual di lingkungan kampus yang banyak pelakunya adalah dosen. Hal itu telah mencoreng dunia pendidikan. Ditambah lagi salah satu kasus dugaan terjadinya pelecehan seksual terbaru yang kini viral menjadi pemberitaan media massa terjadi di Untad yang pelakunya diduga oknum kepolisian.

“Kasus tersebut sangat mencoreng nama baik kepolisian yang mana tugasnya memelihara keamanan, ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Akan tetapi sangat disayangkan malah merusak citra baik instansi Kepolisian,” ujarnya.

Latest news

Related news